Muhammad
Azhari Nasution`
Alkisah,
suatu hari dikejauhan para sahabat melihat sesuatu yang aneh dan ganjil dalam
diri Umar,betapa
tidak terkadang mereka melihat umar menangis terisak sedih dengan air mata
penyesalan membasahi pipinya.namun mendadak setelah sedih tiba – tiba ia
tertawa terpingkal – pingkal dengan senyum sumbringah sebagai wakil dari
kondisi batinnya, yang mungkin sedang merasakan suatu hal yang lucu sekali.
Melihat ini
para sahabat saling bertanya kepada satu sama lainnnya.namun karena teringat
untuk mengedepankan konsep tabayyun
dan juga tak puas dengan dugaan pribadi, maka salah seorang sahabat
memberanikan diri untuk bertanya kepada Umar.
+ Wahai Umar,Apa gerangan dengan prilaku aneh
anda?
-
Apakah
ada yang aneh dari prilaku saya?umar menjawab
+ Ya,Terkadang kami melihat engkau menangis
sehingga timbul perasaan kami untuk
membantumu,namun setelah menangis mendadak engkau tertawa sehingga timbul
sejuta dugaan dari kami.hingga kami ingin bertanya apa sebenarnya yang terjadi
dengan mu wahai sahabat akhirat kami?
-
Hmmm...aku
sedih karena mengenang masa lalu,sambungnya kemudian, “aku menangis ketika
mengenang betapa bodohnya diriku yang begitu mudahnya terseret pola pemikiran
jahiliyah templo doelo,waktu itu seperti yang kalian tahu aku mempunyai anak
perempuan,akhirnya anak itu aku kubur hidup – hidup hanya karena waktu itu tradisi
kami harus meyakinkanku jika anak perempuan hanya akan menimbulkan kesialan.
+ Umar,kalau itu semua kami faham,lalu kemudian
mengapa setelah itu engkau mendadak tertawa ? “jawab para sahabat semakin
penasaran”
-
Oohh
...ya.sungguh aku tertawa mengenang
betapa menggelikannya tingkahku dulu, ketika aku masih menjadi penyembah
berhala. Suatu hari aku ingin sembahyang,maka kubuatkanlah sebuah berhala dari
gandum dengan kualitas terbaik yang kupunya untuk kemudian aku bentuk menjadi
patung sesembahan.setelah puas aku menyembahnya,perutku kemudian lapar
sekali,maka langsung saja saat itu,sambil memohon maaf,aku ambil perlahan tuhanku
tersebut lalu habis dengan lahap kumakan.#Pungkas Umar,sambil bernostalgia
dengan masa jahiliyahnya yang lucu itu.
#Adalah hal yang lumrah bagi kita,bahwa makhluk hidup/organisme
jika ditinjau dari objek yang dikonsumsinya maka dapat dikelompokkan menjadi
tiga genre yaitu, Herbivora,Karnivora
dan Omnivora.Lalu apa
yang dilakukan oleh umar diatas pada masa jahiliyahnya terlepas dari
ketidakbenaran tuhan yang ia anggap ada ketika itu,namun ia telah terlanjur
bisa disebut “Sang pemakan Tuhan” (baca : Tuhan berhala jahiliyah).
Disvora (organisme
sang pemakan tuhan),sekali
lagi itulah istilah yang mungkin tepat untuk mengambarkan kelakuan
jahiliyah umar sekaligus kekonyolannya ketika itu.waaaw...mengerikan sekali,ada
makhluk yang berani memakan penciptanya.
Sadar atau
tidak sadar - kalau enggan mengatakan pura – pura lupa, secara metafora kita
juga sangat sering memakan Tuhan kita lewat melahap habis segala hak keasasian
Tuhan kita.jika Tuhan memberikan kita hal yang baik – baik maka kita berkata ;
Oh...Tuhan sungguh engkau maha baik,jika Tuhan memberi kita yang indah – indah
kita katakan; Tuhan benarlah jika engkau itu maha indah.namun disisi lain jika
tuhan memberikan yang apes – apes kita segera menyalahkan Tuhan dan membenci
Tuhan sepenuhnya hanya karena ia tidak memberikan apa yang terbaik menurut
prasangka kita.lalu sembari mengatakan : Tuhan..engkau maha apes (Na’uzubillahi
mindzalik)
Sungguh Qudrah dan Iradah Tuhan yang mulanya adalah
hak preoregatifNya kita telah rubah menjadi hak preoregatif kita.Sering juga Tuhan
kita jadikan sebagai Pesanan,jika Tuhan memberikan sesuai pesanan maka ia lolos
menjadi Tuhan.Namun jika tidak, Tuhan harus remedial untuk harus berbuat yang
baik dan terbaik sesuai maunya kita.simpelnya standarisasi Tuhan ada ditangan
kita,bukankah ini sesungguhnya sama dengan Umar disaat jahiliyahnya???jika lagi
ingin taat maka ia segera buat tuhan-tuhanannya dari gandum lalu disembah
sepuasnya,namun jika sudah lelah ditambah lagi dengan kondisi perut yang lapar
maka tuhan harus siap segera ditamengkan untuk dimakan!!!bukankah dalam hidup
ini kita sering mentamengkan Tuhan???
Dalam dunia
teologi islam,kita mengenal salah satu kelompok apa yang sering disebut
muktazilah.salah satu diskret dan doktrin dari kelompok ini adanya al- Ushul
al- khomsah (lima panca teologis muktazilah),salah satunya adalah “al -
‘Adl” bahwa Tuhan maha adil, dan Tuhan akan disebut adil jika telah
bertindak yang baik (ash – shalah) dan terbaik (al – ashlah)
untuk manusia,jika tidak maka Tuhan telah melanggar janjinya.memandang
pemberian Tuhan dalam perspektif antroposentris (yang dicipta) bukan teosentris
(sang pencipta).
Tentu bias
dari doktrin ini adalah apa yang dijelaskan diatas,ungkapan lainnya, “Tuhanlah
yang harus menyesuaikan kepada penciptanya,bukan sebaliknya”waspadalah...!
sebab kita bisa menjadi disvora (sang pemakan Tuhan) yang lebih brutal bahkan kanibal
dari pada organisme herbivor dan omnivor.
Padahal
adalah sikap seorang hamba sejati ia harus haqqul yaqin bahwa Tuhannya
adalah maha adil,tanpa ngeyel atau terlalu banyak mempertanyakan sisi
keadilannya. “Keadilan Tuhan itu absolut.Mempertanyakan keadilan Tuhan hanya
akan membuat diri kita tidak adil pada Tuhan.”
Dalam hal
ini,adalah penting kita menghayati sebuah nasihat dari imam sufi besar pada
zamannya,Ibnu ‘Athoillah as Sakandari
dalam opus magnumnya al - Hikam:
“Apabila engkau gembira ketika diberi yang
baik – baik oleh Tuhan,dan disaat yang lain engkau kecewa saat diberi yang
buruk – buruk,maka segera simpulkanlah bahwa itu adalah bukti dari dari kekanak
- kanakanmu dalam beragama dan tidak ketulusanmu dalam penghambaan.”(al-Hikam)
Terakhir,kalau boleh sekali lagi bertanya,
pertanyaannya simpel saja,ditengah kehidupan jahiliah modern saat ini adakah
kita juga disebut disvora – disvora ulung seperti apa yang dilakukan umar saat
masa jahiliahnya tempoe doloe??? #Tepuk dada, tanya iman.