Tampilkan postingan dengan label Bunga Rampai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bunga Rampai. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Desember 2014

Makna Sumpah di Dalam Surah al- Ashri


 Muhammad Azhari Nasution’

            Menurut Thahir Ibnu ‘Asyur secara umum huruf taukid berfungsi memberikan kesan penegasan (strengthening impression) terhadap berita yang sedang disampaikan (Ta’kidul Khabar). Demikian pula fungsi dari “huruf qasam” (al wawu) di permulaan surah al Ashri. Selanjutnya ketika ada yang bertanya mengapa Allah menjadikan waktu sebagai objek sumpahnya?

            Masih menurut Ibnu ‘Asyur, setidaknya ada 4 ‘Ibrah  yang dapat diambil dari eksistensi al ‘Ashri sebagai objek sumpah dalam ayat ini :

  1. Sebagai bentuk pelajaran dengan perwujudan yang nyata dari Allah ( Takwini ar Rabbani) terhadap kita atas kemaha- kehendakNya dan keluasan ilmunya.
  2. Bahwa waktu adalah ciptaan Allah dengan kehendak mutlakNya(af’alu ar rabbaniyah)
  3. Ia juga bisa berarti ketetapan Tuhan yang penuh makna dan menuntut kita untuk takjub akan kedatangan sang waktu ashar,beralihnya dari terang kepada kegelapan. Menjadi waktu transisi berubahnya dari waktu yang melambangkan kepolosan dengan kepura puraan
  4. Dan ia juga menunjukkan atas adanya perkara besar mengapa ia dijadikan alat sumpah,misal adanya waktu kekhususan sholat ashar pada waktu itu,atau keberkahan.

           

Tujuan Surah Al Ashri


Muhammad Azhari Nasution’

Surah yang yang oleh Thahir Ibnu ‘Asyur[1] dikatakan turun pada urutan ke 13 stelah surah al Insyirah dan sebelum surah al ‘adiyat ini begitu banyak keutamaannya. Ia juga disebut oleh para ulama sebagai “Aqsharu as suwar” (termasuk surat terpendek selain surah an nasr dan al kautsar)

Syeikh Thahir Ibnu ‘Asyur dalam opus Magnumnya “at- Tahriir wa at- Tanwiir” ketika menjelaskan muqoddimah surat ini paling tidak ada 3 tujuan mengapa surat ini diturunkan :
1.      Mengandung ketetapan yang tegas tentang sebuah kerugian besar “Khusrooni asy syadiid” bagi orang yang tidak memanfaatkan waktunya seperti orang yang syirik,dan ingkar setelah dakwah sampai kepadanya,atau juga orang yang sekedar ikutan tanpa tau tujuannya dalam beramal yang terlarang.
2.      Adanya sebuah kemenangan dan kesuksesan  bagi orang orang yang beriman dan beramal sholih serta mengajak pada kebenaran
3.      Pentingnya sebuah kesabaran terhadap pensucian diri dan dalam mengajak kebaikan kepada orang lain

Sang Pemakan Tuhan


Muhammad Azhari Nasution`

            Alkisah, suatu hari dikejauhan para sahabat melihat sesuatu yang aneh dan ganjil dalam diri Umar[1],betapa tidak terkadang mereka melihat umar menangis terisak sedih dengan air mata penyesalan membasahi pipinya.namun mendadak setelah sedih tiba – tiba ia tertawa terpingkal – pingkal dengan senyum sumbringah sebagai wakil dari kondisi batinnya, yang mungkin sedang merasakan suatu hal yang lucu sekali.
Melihat ini para sahabat saling bertanya kepada satu sama lainnnya.namun karena teringat untuk mengedepankan konsep tabayyun[2] dan juga tak puas dengan dugaan pribadi, maka salah seorang sahabat memberanikan diri untuk bertanya kepada Umar.
+   Wahai Umar,Apa gerangan dengan prilaku aneh anda?
-          Apakah ada yang aneh dari prilaku saya?umar menjawab
+     Ya,Terkadang kami melihat engkau menangis sehingga timbul perasaan kami         untuk membantumu,namun setelah menangis mendadak engkau tertawa sehingga timbul sejuta dugaan dari kami.hingga kami ingin bertanya apa sebenarnya yang terjadi dengan mu wahai sahabat akhirat kami?
-          Hmmm...aku sedih karena mengenang masa lalu,sambungnya kemudian, “aku menangis ketika mengenang betapa bodohnya diriku yang begitu mudahnya terseret pola pemikiran jahiliyah templo doelo,waktu itu seperti yang kalian tahu aku mempunyai anak perempuan,akhirnya anak itu aku kubur hidup – hidup hanya karena waktu itu tradisi kami harus meyakinkanku jika anak perempuan hanya akan menimbulkan kesialan.
+    Umar,kalau itu semua kami faham,lalu kemudian mengapa setelah itu engkau mendadak tertawa ? “jawab para sahabat semakin penasaran”

-          Oohh ...ya.sungguh aku tertawa  mengenang betapa menggelikannya tingkahku dulu, ketika aku masih menjadi penyembah berhala. Suatu hari aku ingin sembahyang,maka kubuatkanlah sebuah berhala dari gandum dengan kualitas terbaik yang kupunya untuk kemudian aku bentuk menjadi patung sesembahan.setelah puas aku menyembahnya,perutku kemudian lapar sekali,maka langsung saja saat itu,sambil memohon maaf,aku ambil perlahan tuhanku tersebut lalu habis dengan lahap kumakan.#Pungkas Umar,sambil bernostalgia dengan masa jahiliyahnya yang lucu itu.


#Adalah  hal yang lumrah bagi kita,bahwa makhluk hidup/organisme jika ditinjau dari objek yang dikonsumsinya maka dapat dikelompokkan menjadi tiga genre yaitu, Herbivora[3],Karnivora[4] dan Omnivora[5].Lalu apa yang dilakukan oleh umar diatas pada masa jahiliyahnya terlepas dari ketidakbenaran tuhan yang ia anggap ada ketika itu,namun ia telah terlanjur bisa disebut “Sang pemakan Tuhan” (baca : Tuhan berhala jahiliyah).
Disvora[6] (organisme sang pemakan tuhan),sekali lagi itulah istilah yang mungkin tepat untuk mengambarkan kelakuan jahiliyah umar sekaligus kekonyolannya ketika itu.waaaw...mengerikan sekali,ada makhluk yang berani memakan penciptanya.
Sadar atau tidak sadar - kalau enggan mengatakan pura – pura lupa, secara metafora kita juga sangat sering memakan Tuhan kita lewat melahap habis segala hak keasasian Tuhan kita.jika Tuhan memberikan kita hal yang baik – baik maka kita berkata ; Oh...Tuhan sungguh engkau maha baik,jika Tuhan memberi kita yang indah – indah kita katakan; Tuhan benarlah jika engkau itu maha indah.namun disisi lain jika tuhan memberikan yang apes – apes kita segera menyalahkan Tuhan dan membenci Tuhan sepenuhnya hanya karena ia tidak memberikan apa yang terbaik menurut prasangka kita.lalu sembari mengatakan : Tuhan..engkau maha apes (Na’uzubillahi mindzalik)[7]
Sungguh  Qudrah dan Iradah Tuhan yang mulanya adalah hak preoregatifNya kita telah rubah menjadi hak preoregatif kita.Sering juga Tuhan kita jadikan sebagai Pesanan,jika Tuhan memberikan sesuai pesanan maka ia lolos menjadi Tuhan.Namun jika tidak, Tuhan harus remedial untuk harus berbuat yang baik dan terbaik sesuai maunya kita.simpelnya standarisasi Tuhan ada ditangan kita,bukankah ini sesungguhnya sama dengan Umar disaat jahiliyahnya???jika lagi ingin taat maka ia segera buat tuhan-tuhanannya dari gandum lalu disembah sepuasnya,namun jika sudah lelah ditambah lagi dengan kondisi perut yang lapar maka tuhan harus siap segera ditamengkan untuk dimakan!!!bukankah dalam hidup ini kita sering mentamengkan Tuhan???

Dalam dunia teologi islam,kita mengenal salah satu kelompok apa yang sering disebut muktazilah.salah satu diskret dan doktrin dari kelompok ini adanya al- Ushul al- khomsah (lima panca teologis muktazilah),salah satunya adalah “al - ‘Adl” bahwa Tuhan maha adil, dan Tuhan akan disebut adil jika telah bertindak yang baik (ash – shalah) dan terbaik (al – ashlah) untuk manusia,jika tidak maka Tuhan telah melanggar janjinya.memandang pemberian Tuhan dalam perspektif antroposentris (yang dicipta) bukan teosentris (sang pencipta).
Tentu bias dari doktrin ini adalah apa yang dijelaskan diatas,ungkapan lainnya, “Tuhanlah yang harus menyesuaikan kepada penciptanya,bukan sebaliknya”waspadalah...! sebab kita bisa menjadi disvora (sang pemakan Tuhan) yang lebih brutal bahkan kanibal dari pada organisme herbivor dan omnivor.

Padahal adalah sikap seorang hamba sejati ia harus haqqul yaqin bahwa Tuhannya adalah maha adil,tanpa ngeyel atau terlalu banyak mempertanyakan sisi keadilannya. “Keadilan Tuhan itu absolut.Mempertanyakan keadilan Tuhan hanya akan membuat diri kita tidak adil pada Tuhan.”
Dalam hal ini,adalah penting kita menghayati sebuah nasihat dari imam sufi besar pada zamannya,Ibnu ‘Athoillah as Sakandari[8] dalam opus magnumnya al - Hikam:
 “Apabila engkau gembira ketika diberi yang baik – baik oleh Tuhan,dan disaat yang lain engkau kecewa saat diberi yang buruk – buruk,maka segera simpulkanlah bahwa itu adalah bukti dari dari kekanak - kanakanmu dalam beragama dan tidak ketulusanmu dalam penghambaan.”(al-Hikam)

Terakhir,kalau boleh sekali lagi bertanya, pertanyaannya simpel saja,ditengah kehidupan jahiliah modern saat ini adakah kita juga disebut disvora – disvora ulung seperti apa yang dilakukan umar saat masa jahiliahnya tempoe doloe??? #Tepuk dada, tanya iman.


[1] .  Ialah Umar ibn Al - Khattab ibn Nufail Al – Quraisy,lahir di Makkah 13 tahun setelah tahun gajah.al Faruq adalah gelarnya,ia Syahid sebab di bunuh oleh seorang Majusi Abu Lu’luah Fairuz pada hari Rabu bulan Dzulhijjah tahun 23 hijri.
[2]  . sebuah upaya dalam ajaran islam untuk me re – check kebenaran sebelum memutuskan, agar menemukan kemashlahatan.
[3] . Herbivora adalah organisme pemakan tumbuhan atau pemakan protein dari tumbuhan seperti,sapi,kerbau,kuda
[4] .Dalam bahasa Latin karnivora berasal dari kata carne : daging dan juga vorare : memakan . istilah ini sering ditujukan kepada organisme yang makanan dominannya adalah daging,baik dalam keadaan hidup atau sudah mati. Kabilah karnivora yang memakan serangga disebut insektivora seperti cecak dan lain – lain,sedang karnivora dari kabilah pemakan ikan sebagai menu utamanya disebut piskivora,seperti pinguin,anjing laut dan sebagainya.
[5] .Dari bahasa latin , Omne = semua/semuanya , vorare = memakan/melahap.istilah ini sering ditujukan kepada organisme pemakan apa yang dikonsumsi oleh organisme herbivor dan karnivor.babi,burung gagak termasuk dari sekian banyak organisme omnivora.
[6] .Dari paduan bahasa latin, Deus = Tuhan / Dewa dan vorare =memakan / melahap
[7]. Lihat dan Baca Q.s 89/al Fajr 15 - 16
[8] .Ia imam sufi besar abad ke – 7 H.Nama lengkapnya Abu Al-Fadl Ibnu Athoillah Al-Iskandariah Al – Malikiyah Asy – Syadziliyah.Ia wafat di kota Kairo,Mesir dalam usia 60 tahun pada tahun 709 H/1309 M.